Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Liga Indonesia kini berganti wajah jadi Super League. Bersamaan dengan rebranding, aturan pemain juga diperbarui secara signifikan.
Tujuannya, yaitu menyeimbangkan talenta asing dan lokal, serta mendukung regenerasi pemain muda untuk kebutuhan PSSI dan tim nasional. Berikut ini pembahasan lengkapnya untuk Anda.
Kuota Pemain Asing Liga Indonesia: Formula 11-9-7

Salah satu perubahan terbesar adalah regulasi kuota pemain asing. Kini setiap klub diperbolehkan mendaftarkan hingga 11 pemain asing bebas negara dalam skuad musim 2025/2026. Namun, jumlah ini tidak otomatis menjamin pemain dapat tampil semua.
Maksimal hanya 9 nama dari 11 nama pemain asing yang bisa masuk ke dalam Daftar Susunan Pemain (DSP) per laga, dan hanya 7 pemain asing yang boleh dimainkan secara bersamaan di lapangan. Skema tersebut dikenal sebagai formula 11-9-7, yang secara resmi dianggap final oleh Super League.
Sebelumnya di musim 2024/2025, regulasi memperbolehkan 8 pemain asing dengan sebagian bisa main. Tetapi sekarang slot tampil asing malah dipangkas meski kuota pendaftaran meningkat.
Alasan pemangkasan tersebut menurut manajemen, yaitu memberi lebih banyak kesempatan bagi pemain lokal agar dapat berkembang dan mendapat menit bermain yang memadai.
Kewajiban Pemain Muda (U-23)
Selain regulasi pemain asing, Super League 2025/2026 juga menerapkan aturan wajib bagi pemain muda. Setiap klub harus mendaftarkan minimal 5 pemain U-23, dengan batas usia kelahiran 2003 atau lebih muda.
Lebih lanjut, satu dari pemain U-23 tersebut diharuskan menjadi starter dan bermain minimal 45 menit dalam setiap laga. Ini langkah penting untuk memastikan regenerasi pemain lokal dan memperkuat pool untuk tim nasional.
Langkah ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan pembinaan jangka panjang, di mana pemain muda diberi kesempatan nyata tampil reguler, bukan sekadar di bangku cadangan.
Alur Pendaftaran dan Daftar Susunan Pemain (DSP) Liga Indonesia
Setiap klub wajib mendaftarkan skuat mereka sesuai regulasi, total pemain asing hingga 11, ditambah pemain lokal dan U-23. Sebelum setiap pertandingan, klub harus menentukan DSP, maksimal 9 pemain asing bisa masuk, tapi hanya 7 yang boleh dimainkan.
Jika klub melanggar regulasi, misalnya memainkan lebih dari 7 pemain asing, atau gagal menurunkan pemain U-23 sesuai ketentuan, bisa dikenakan sanksi berupa denda atau pengurangan poin, sesuai peraturan yang berlaku.
Tujuan Regulasi: Menyeimbangkan Asing & Lokal, Dukung Timnas
Menurut Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, regulasi ini dibuat sebagai langkah strategis agar talenta lokal, khususnya pemain muda, memiliki lebih banyak kesempatan tampil.
Dengan kuota asing yang masih cukup besar (11 terdaftar), klub tetap bisa merekrut pemain asing berkualitas untuk memperkuat daya saing di tingkat Asia.
Namun, pembatasan di DSP dan jumlah pemain asing yang bermain memastikan bahwa ruang bagi pemain Indonesia tetap terbuka.
Sementara, penekanan pada pemain U-23 diharapkan membantu pengembangan pemain muda dan kelangsungan regenerasi tim. Sebuah kebutuhan nyata bagi keberlanjutan prestasi nasional.
Perubahan regulasi ini mendapat sambutan beragam. Sebagian pihak optimis bahwa kebijakan ini bakal membuka ruang bagi pemain lokal dan memperkuat fondasi tim nasional. Namun, ada pula kritik bahwa kombinasi kuota asing dan kewajiban U-23 secara bersamaan, bisa jadi kontradiktif.
Meski demikian, aturan pemain di Super League 2025/2026 branding Liga Indonesia menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia tengah memasuki fase transisi. Semakin berkembang dan sekaligus mempertahankan daya saing lewat pemain asing.
